Rasa yang Tertinggal di Pasir Mendit . . .

Mangroving Teer Jogja di Pasir Mendit.

Jogjakarta - KeMANGTEER. Pasir Mendit, sebuah dusun terpencil di ujung barat provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang masih dalam wilayah Desa Jangkaran Kecamatan Temon Kabupaten Kulon Progo. Tidak seperti namanya, di dusun Pasir Mendit malah tidak kita temui hamparan pasir seperti lazimnya kita jumpai pada daerah pesisir pantai. Luasnya wilayah berlumpur menjadikan daerah ini kaya akan potensi dan daya dukung sebagai ekosistem mangrove.

Bahkan bisa dikatakan, Mangrove Pasir Mendi tmerupakan ekosistem mangrove terluas dan terbaik yang dimiliki provinsi Istimewa ini. Dari data yang diperoleh pada tahun 2012, Dusun Pasir Mendit terdiri dari 47 kepala keluarga terhitung secara administratif dan sebagian besar berusia 35 tahun keatas.

Sebanyak 60% berprofesi sebagai petani dan sisanya bekerja sebagai nelayan. Sehingga wajar jika kita melihat hamparan ladang dan sawah yang membentang luas di dusun Pasir Mendit ini.

Hanya dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini, dusun Pasir Mendit begitu cepat menjelma menjadi daerah tambak udang vaname. Ladang-ladang subur kinipun beralih menjadi hamparan petak-petak tambak.

Panas dan bisingnya suara diesel tambak menjadi hal yang kini kita rasakan ketika berkunjung kesana. Belum lagi keberadaan kendaraan berat penggali tanah yang semakin memperparah kerusakan yang ada disana.

Disadari atau tidak, faktor ekonomi yang memicu semua ini. Jelas sudah, bahwa hasil bertani tidak cukup besar bila dibandingkan dengan hasil tambak udang.

Berbicara konservasi, masyarakat sadar akan hal itu tapi lebih banyak yang apatis. Konservasi mangrove mereka pandang belum mampu memberikan keuntungan finansial yang nyata bagi masyarakat Pasir Mendit.

Namun sebagian sadar bahwa pentingnya ekosistem mangrove mulai dirasakan penting bagi mereka. Ancaman terjangan gelombang tsunami yang bisa datang kapan saja hingga rusaknya tanggul sungai Bogowonto akibat arus sungai yang terus mengikis dan mengancam tambak-tambak disana, menjadi hal yang mendapat perhatian serius.

“Pemerintah harus bertanggung jawab, ini semua juga salah pemerintah!” terdengar dengan jelas dengan raut wajah yang menyimpan keprihatinan, pak Warso Suwito menyampaikan kemarahannya terhadap apa yang terjadi di sana.

Menurut beliau, pemerintah dinilai lambat dalam mengatur perda dan kebijakan terkait keberadaan tambak-tambak udang yang kini semakin tak terkendali lagi.

Dengan tegas beliau juga menyayangkan keberadaan Pokja Mangrove Dinas Kulon Progo yang dinilai tidak berbuat banyak terhadap masalah-masalah mangrove di dusun Pasir Mendit.

Wanatirta, adalah sebuah nama jawa yang memiliki arti hutan air. Sebuah nama kelompok pelestari mangrove Pasir Mendit yang mengandung sebuah harapan dan do’a agar nantinya Pasir Mendit menjadi hutan air yang lestari. Wanatirta menjadi kantong harapan bagi kita yang memiliki kepedulian mendalam terhadap mangrove Pasir Mendit.

Disini, Pak Warso Suwito beserta anggota dengan ikhlasnya mengabdikan hidupnya untuk kelestarian alam. Menjadi permata yang mahal di tengah gencarnya aktifitas perusakan alam di negeri ini.

Menjadi tamparan bagi kepedulian pemuda bahwa di usia senja beliau, konservasi merupakan harga mati. Harga yang tidak bisa dibeli dengan materi karena menjaga alam ini sama halnya dengan menjaga harga diri bangsa ini.

Bagi para pendatang tentunya setuju bila Daerah Istimewa Yogyakarta sangatlah ramah dan tentram, hingga kita akan merasa sangat nyaman seakan-akan kita adalah warga asli Jogja.

Bagi yang telah meninggalkan Jogja, akan terasa rindu teramat dalam akan suasana nyaman dan indahnya alam Jogja. Ini pula yang dirasakan keberadaan ekosistem mangrove di Jogja, mereka ingin diakui, dicintai dan dijaga keberadaanya, sehingga mangrove di DIY tidak menjadi sekedar cerita untuk generasi yang akan datang... (FA).

Komentar