21.9.23

Gali Informasi Mangrove, WRI Indonesia Temui KeMANGTEER Bengkalis


Pertemuan WRI Indonesia dengan KeMANGTEER Bengkalis.

Bengkalis - KeMANGTEER. Senang sekali, KeMANGTEER Bengkalis mendapatkan kunjungan dari World Resources Institute (WRI) Indonesia dan Bpk. Andri Hendriza (Universitas Riau). Pada kesempatan ini, mereka melakukan wawancara dengan Teer Rio, Teer Saprizal, Teer Ade, kelompok nelayan, Ketua RW dan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kelapapati seputar penggalian informasi mengenai mangrove di Bengkalis. (24-25/8/2023)

Teer Rio menjelaskan mengenai sejarah berdirinya kelompok mangrove Paghet Seghagah pada tahun 2013 yang kemudian bergabung dengan KeMANGTEER di tahun 2016, sebagai salah satu regional KeMANGTEER di Indonesia, yaitu KeMANGTEER Bengkalis.

"Pada kunjungan WRI Indonesia ini, saya juga menceritakan tentang kegiatan kami dan dukungan dari berbagai pihak yang telah membantu KeMANGTEER Bengkalis dalam melestarikan kawasan mangrove di Bengkalis," kata Teer Rio. "Tak lupa, saya juga menerangkan mengenai program kerja yang sudah, sedang dan belum terlaksana," katanya lebih lanjut.

Teer Rio juga mengatakan bahwa Bpk. Yong Den (Ketua BPD) merupakan salah satu motivator yang selalu memberikan saran, masukan dan fasilitasi kepada masyarakat. 

"Pada tahun 2022, berkat dukungan Ketua BPD, KeMANGTEER Bengkalis mendapatkan satu unit gapura, portal dan plat duiker," terang Teer Rio.

KeMANGTEER Bengkalis berharap bahwa hasil dari kunjungan ini dapat menjadi sebuah informasi kepada pihak terkait agar dapat memperhatikan dan memberikan fasilitas kepada masyarakat pesisir dalam upaya pelestarian kawasan mangrove di Desa Kelapapati, Bengkalis.


Suasana diskusi dan penggalian informasi mangrove oleh WRI Indonesia.

WRI Indonesia juga menggali informasi mengenai jumlah spesies mangrove dan sumber pendanaan untuk kegiatan, infrastruktur dan normalisasi sungai. Teer Rio menjelaskan bahwa pendanaan dari ketiga hal tersebut berasal dari swadaya kelompok, dana desa dan APBD.

"Kami berharap, ada bantuan untuk pembuatan jembatan penyeberangan di Sungai Kunyit yang berada di kawasan konservasi mangrove," jelas Teer Rio. "Dengan terbangunnya jembatan ini, maka akan dapat memberikan akses di sepanjang Sungai Pedekik yang sudah dinormalisasi, sehingga kegiatan konservasi mangrove kami bisa lebih optimal," tambahnya.

KeMANGTEER Bengkalis juga mengharapkan adanya peranan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dalam upaya pelestarian kawasan mangrove di Desa Kelapapati, dengan cara memberikan akses ruang komunikasi kepada KeMANGTEER Bengkalis dan warga pesisir Bengkalis.

"Semoga saja, kegiatan-kegiatan konservasi mangrove yang sudah dilakukan oleh KeMANGTEER Bengkalis akan dapat dijadikan motivasi oleh generasi muda Indonesia untuk ikut peduli kepada mangrove di pesisir kita," harap Teer Rio. "Terlebih lagi, Pulau Bengkalis ini merupakan salah satu pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka, sehingga sangat rentan terjadinya abrasi pantai," pungkasnya.

Keseluruhan kegiatan yang dimulai pada pukul 08.00 - 17.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan beberapa kesimpulan dan foto bersama. (KBLS/ADM).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar