19.12.14

Mengajar Mangrove di Dua Sekolah, KeMANGTEER Malang Lakukan CGTS di Pesisir Tulungagung

Mengajar mangrove kepada siswa/siswi SD di Malang.

Tulungagung - KeMANGTEER. Salamteer! Hai, Teer. Pada Selasa pagi, yang dingin, di awal Desember 2014 (9/12), Ngalamteer semangat mangroving, mangrove action ke Tulungagung. Bersama tim lainnya “Conservation Goes To School”, Teer Alwi, Teer Erna, dan Teer Bani, berangkat ke Desa Sidem, Tulungagung.

Tim sosialisasi terdiri dari dosen, tim konservasi dan KeMANGTEER. Mereka berangkat untuk mempersiapkan acara sosialisasi tentang pentingnya ekosistem mangrove pada esoknya, hari Rabu.

Acara sosialisasi adalah serangkaian acara PJB Peduli pesisir yang bekerjasama dengan pemerintah kabupaten Tulungagung dan Universitas Brawijaya. Di Sidem, mereka menginap di villa milik PJB (Pembangkit Jawa Bali) Tulungagung, atau yang lebih dikenal dengan PJB Niyama.

Pemberian hadiah kepada pemenang kuis mangrove.

Oh, iya. Kenapa bisa dikenal nama Niyama?. Gini, asal usulnya, singkatnya, dulu saat Jepang berkuasa di Indonesia, Jepang membangun saluran air dan tiga terowongan di Desa Sidem, yang berfungsi untuk memudahkan jalur buangan air terakhir sebelum masuk ke laut, yang kemudian dinamai dengan Niyama.

Nah, salah satu terowongan ini, dimanfaatkan pemerintah Tulungagung sebagai penggerak turbin untuk menghasilkan listrik. Udah tahu, kan?

Balik lagi, bicara sosialisasi, acara ini dinamakan Conservation Goes To School atau CGTS yang ditujukan kepada siswa-siswi SD, melibatkan dua sekolah di desa Besole, yaitu SD Besole IV dan SD Besole VI, terdiri dari kelas 4,5 dan 6.

Di kelas, bukan hanya materi tentang mangrove awareness yang disampaikan, tetapi juga ada materi pengenalan alat tangkap yang tidak merusak lingkungan, oleh temen-temen tim konservasi, game TTS seputar ekosistem mangrove, dan lomba menggambar ekosistem pesisir.

Acara ini ditutup dengan pembagian hadiah bagi pemenang lomba TTS dan menggambar. (ADM).