KeMANGTEER Jogja Hadiri Seminar dan Lokakarya KSK Biogama di Kampus UGM

Teer Jogja di Kampus UGM.

Jogjakarta - KeMANGTEER. Salamteer! Hallo, Teer. Pada tanggal 20 Desember 2014, KeMANGTEER Jogjakarta mewakili KeSEMaT menghadiri acara Seminar dan Lokakarya KSK Biogama, yang diselenggarakan di Kampus Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Mau tahu, gimana serunya aksi mangroving mereka? Yuk, intip rangkuman live tweet mereka, yang aku cuplik dari akun @KeMANGTEERJGJ.

Halo Teers, pagi ini Minteer diminta untuk mewakili KeSEMaT di acara Seminar dan Lokakarya KSK Biogama, sebuah organisasi mahasiswa milik mahasiswa Biologi UGM. Presentasi yang pertama, disampaikan oleh Mbak Ayu, tentang potensi ekstrak mikro algae.

Setelah Mbak Ayu, ada Mbak Ryannika dari kelas keilmuan Pisces yang menjelaskan tentang apa itu Pisces. Kegiatan yang dilakukan kelas keilmuan Pisces banyak banget, salah satunya adalah ekspedisi dan publikasi hasil ekspedisi di seminar-seminar.

Selanjutnya, ada Mbak Safira, dari kelas keilmuan Echinodermata. Setelah itu, ada juga Mbak Sabil dari kelas Crustacea yang mempresentasikan tentang keanekaragaman Dekapoda di pantai Ela-ela, Lobar.

Dari kelas keilmuan Mollusca, Mas Yusri menjelaskan tentang Aplysia Project. Ini adalah biota laut yang menyekresikan tinta ungu yang mengandung senyawa bioaktif. Biota ini melimpah di Gunung Kidul, tetapi musiman, sehingga perlu dibudidaya. Nah, setelah diteliti, ternyata biota ini berpotensi sebagai senyawa anti kanker, lho!

Masih tentang tinta-tintaan, Mas Fikri selaku kadiv keilmuan KSK Biogama menjelaskan beberapa hasil penelitiannya tentang ink squid. 

Pemaparan terakhir, dari Mbak Melisa (tim Nori Rasa Geka) yang menjelaskan tentang ulva yang biasa dijadikan keripik, dan diolah menjadi nori

Masuk sesi kedua, dengan pembicara Bapak Juswono Budisetiawan dari Pusat Studi Sumberdaya dan Teknologi Kelautan UGM. Pemaparan materi diawali dengan pemutaran video keindahan laut di Maratua.

Pak Juswono menjelaskan bahwa Indonesia sangat kaya akan biodiversitas. Indonesia memiliki The Coral Triangle, tempat terkaya di bumi yang kaya akan biodiversitas lautnya. Akan tetapi, sayangnya Indonesia sendiri masih kekurangan ahli, dan kebanyakan peneliti adalah berasal dari orang asing.

Selain itu, banyak masalah dan tantangan yang dihadapi Indonesia, terkait minimnya data, SDM, kawasan yang luas dan tersebar, dan kebijakan pemerintah.

Materi dari Pak Juswono ditutup dengan pemutaran video dokumenter "Uniquely Maratua" karya Pak Juswono sendiri.

Dari kegiatan ini, banyak sekali ilmu pengetahuan yang bisa didapat, salah satunya adalah hubungan hutan mangrove dengan biota-biota dari hasil penelitian di atas.

Sebagai satu kesatuan, mangrove dan ekosistem lainnya di bumi ini, saling bersinergi menciptakan keselarasan dan keseimbangan.

Untuk itu, yuk terus jaga mangrove dan lingkungan kita di bumi, agar terus lestari, demi masa depan yang lebih baik. Amin. Semangteer! (ADM).

Komentar