10.12.14

KeMANGTEER Jakarta Hadiri Pembahasan Draft Panduan Teknis Restorasi Mangrove di Kantor Kementerian Kehutanan

Teer Jakarta di Workshop Mangrove KKP Jakarta.

Jakarta - KeMANGTEER. Salamteer! Pada tanggal 8 Desember 2014, Teer Dyra, Teer Achie, dan Teer lainnya dari KeMANGTEER Jakarta mewakili KeSEMaT, menghadiri workshop yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal PHKA dengan JICA, berjudul Project on Capacity Building for Restoration of Ecosystems in Conservation Areas.

Kegiatan ini, diselenggarakan pada pukul 12.30 WIB - 15.30 WIB di Ruang Sonokeling 2, Gedung Manggala Wanabakti, Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta. Kegiatan difokuskan pada pembahasan draft Pedoman Tata Cara dan Panduan Teknis Restorasi Ekosistem Mangrove Lahan Bekas Tambak di Kawasan Konservasi.

Acara yang diselenggarakan oleh JICA berkerjasama dengan Kementerian Kehutanan ini, berjudul "Project on Capacity Building for Restoration of Ecosystems in Conservation Area,” membahas tentang pedoman dan panduan yang telah dibuat berdasarkan penelitian dan proyek yang dilakukan oleh JICA di Taman Nasional Sembilang di Sulawesi Selatan, dengan dukungan dari Universitas Sriwijaya.

Selain KeMANGTEER Jakarta yang mewakili KeSEMaT, acara ini juga diikuti oleh beberapa perwakilan dari instansi, kementerian dan organisasi lingkungan, seperti WWF, Mangroves for Future, dan lain-lain.

Pembahasan mengenai pedoman dan panduan dalam konservasi mangrove di bekas lahan pertambakan ini, mendapat banyak respon positif, seperti pertanyaan-pertanyaan, saran dan pernyataan yang bersifat membangun, terutama tentang bagaimana kelangsungan ekonomi dan kehidupan masyarakat pendatang yang bermigrasi, kemudian menetap di sekitar area konservasi.

Berdasarkan keterangan dari narasumber, kerusakan ekosistem mangrove, sebagian besar dikarenakan ulah para pendatang yang membuka area hutan mangrove menjadi pertambakan ikan. 

Sekitar 200,7 hektar lahan rusak bekas tambak di Taman Nasional Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, direstorasi dengan penanaman mangrove selama empat tahun terakhir.

Setidaknya, 1.000 hektar lahan di kawasan itu masih dalam kondisi rusak, yang sebagian besar akibat pembukaan tambak udang.

Terdapat pula beberapa pemukiman dan desa yang sudah ada sebelum kawasan itu ditetapkan sebagai taman nasional. Pemukiman dan desa-desa ini, masuk kedalam zona khusus, seluas 2.900,92 hektar.

Pada tahun 2012, tercatat dua desa berada didalam kawasan dengan jumlah penduduk 2.140 jiwa, dari 651 keluarga. Restorasi Taman Nasional (TN) Sembilang tersebut merupakan kerjasama JICA, Jepang dalam proyek restorasi ekosistem di area konservasi JICA.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan acuan kepada semua pihak dalam menyelenggarakan kegiatan restorasi kawasan konservasi, yang terdegradasi akibat pembukaan tambak, dengan tujuan agar pelaksanaan kegiatan menjadi lebih efektif dan efisien dan kegiatan restorasi dapat dilaksanakan secara cermat dan teliti sehingga memberikan keberhasilan.

Keseluruhan acara berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan beberapa rekomendasi dan kesimpulan. (ADM).