4.4.18

Mengamati Monyet Ekor Panjang di Hutan Lindung Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Monyet Ekor Panjang di PIK.

Jakarta - KeMANGTEER. Bicara soal ekosistem mangrove, tak lengkap jika tidak membahas mengenai fauna endemiknya. Kali ini, para Teer Jakarta melakukan Program ‘Kunjung Sapa’ ke Hutan Lindung Pantai Indah Kapuk (PIK), pada Jumat (16/3/18).

Kunjungan kali ini merupakan bagian silaturahmi KeMANGTEER Jakarta dengan kawan dari International Animal Rescue (IAR Indonesia) untuk mempererat persahabatan dan menambah wawasan seputar dunia lahan basah.

Kami datang masih pagi, ketika monyet-monyet sedang pergi mencari makan ke luar hutan. Miris rasanya, ketika mendengar kelompok monyet harus mencari makan di luar hutan. Hal ini terjadi karena pola perilaku manusia yang mengubah insting mereka mencari sumber makan dari manusia.

KeMANGTEER Jakarta bersama IAR Indonesia.

Kami pun menyusuri kawasan mangrove hutan lindung sambil melakukan identifikasi jenis mangrove. Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, terdapat lima spesies yang mendominasi, antara lain: Rhizophora sp, Avicennia sp, Sonneratia sp, Acrostichum aureum dan Terminalia catappa.

Memang, ekosistem hutan lindung menjadi sumber kehidupan berbagai biota lahan basah, seperti burung, monyet, serangga, hingga buaya muara.

Dahulu, kawasan PIK adalah hutan mangrove, namun sejak tahun 1980-an deforestasi terjadi. Reklamasi dilakukan sehingga kini muncul perumahan mewah yang mengepung hutan mangrove.

Maka dari itu, Kawasan Hutan Lindung di PIK ini bersebelahan dengan perumahan dan secara otomatis keberadaan Monyet Ekor Panjang terganggu. Tak jarang monyet sering ke rumah warga dan merusak fasilitas perumahan.

Hal ini menjadi konflik tersendiri bagi jenis primata endemik hutan mangrove ini dengan manusia. Karena itu, hadir IAR Indonesia yang menjadi katalisator dari pencegahan konflik antara manusia dan Monyet Ekor Panjang. (NF/ADM/KJKT).