26.9.11

Laporan Hasil Survei Lokasi The 2nd KOPDAR KeMANGTEER Jakarta di Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk, Jakarta

Papan nama wisata alam mangrove di Jakarta.

Muara Angke, Jakarta – KeMANGTEER. Pada hari Minggu, 25 September 2011, dengan tujuan untuk melakukan survei lokasi KOPDAR kedua KeMANGTEER Jakarta, mulai pukul 10:00 WIB, saya (Ilham) dan Korlapteer Fahrul bertemu di Pluit Junction dan langsung mengarah ke lokasi Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk.

Perjalanan dari Pluit Junction ke lokasi TWA kami tempuh sekitar 15 menit dengan menggunakan sepeda motor. Setibanya di gerbang lokasi TWA, kami disambut dengan bangunan gedung Tzu Chi Indonesia yang sangat megah, yang sedang berada dalam tahap pembangunan.

Di gerbang masuk terdapat dua penjaga yang bertugas untuk penjualan tiket seharga Rp. 10.000 per orang dan untuk parkir motor Rp. 2.000. Untuk parkir mobil, kami kurang tahu (kemungkinan sekitar Rp. 5.000).

Setelah membayar uang masuk total Rp. 22.000, kami langsung meluncur menuju tempat parkir motor, namun sebelum itu di sebelah kiri jalan, kami sempat melihat ada bangunan masjid yang sangat indah berada di atas rawa mangrove.

Setelah memarkir motor dengan aman, kami langsung menuju ke lokasi utama, dimana hutan mangrove berada. Sebelum masuk ke hutan mangrove, kami disajikan dengan pemandangan lokasi perkemahan, outbond, pendopo, dan bagian informasi.

Kami meneruskan perjalanan kami, masuk lebih dalam ke lokasi hutan. Disana, kami sempat berjumpa dengan dua pekerja bagian pembibitan, mereka bercerita mengenai suka duka dari awal mereka bekerja disana. Mereka sempat menceritakan bahwa mereka berjuang mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan lokasi tersebut sebagai kawasan konservasi mangrove.

Mereka harus siap menghadapi para petambak yang seketika dapat saja menyerang mereka dan merusak hutan mangrove disana.

Perjalanan kami lanjutkan menuju pesisir yang langsung berhadapan dengan laut lepas. Di sepanjang perjalanan di atas jembatan bambu yang kanan kirinya dihiasi pepohonan mangrove, sesaat kami juga melihat kepiting-kepiting mangrove yang sesekali keluar lubang, mencari makan.

OYang unik adalah ketika kami menjumpai tiga ekor anak kucing bersama induknya sedang menikmati daging ular yang sudah mati.

Sesampainya di sisi hutan mangrove yang berhadapan langsung dengan laut lepas, kami berbincang dengan pembuat tanggul disana yang bercerita bahwa empat tahun yang lalu, tanggul yang dia buat tidaklah berada disini, melainkan di lokasi patok yang ada sekitar seratus meter di depan kami (sambil menunjuk lokasi patok).

Seketika kami berdua menarik nafas yang dalam karena terkejut sampai secepat itu kerusakan yang terjadi. Tidak berhenti disitu, dia kembali menunjuk ke kejauhan, ada sebuah kapal besar yang dia katakan sedang bekerja mengeruk pasir untuk dijual.

Hal itulah yang dia katakan sebagai penyebab makin mundurnya patok dan tanggul pesisir Jakarta. Dia juga bercerita mengenai kegigihan ibu Murniwati Harahap, untuk terus mempertahankan lahan tersebut sebagai lahan konservasi dengan menolak semua tawaran pihak pengembang real estate maupun bangunan mewah lainnya, yang berniat membeli lahan tersebut.

Setelah puas menikmati hembusan angin pesisir yang menyejukkan, kami memutuskan kembali ke bagian depan menuju pusat informasi. Sesampainya disana, kami bertemu dengan salah seorang karyawan yang bertugas menjaga, kemudian kami langsung larut dalam obrolan santai bersamanya.

Dia menceritakan bahwa sebenarnya tempat ini baru dibuka untuk umum sekitar setahun lalu (2010). Alasannya, ibu Murniwati khawatir jika nanti dibuka untuk umum, lama kelamaan tempat itu yang peruntukannya sebagai lokasi konservasi mangrove akan rusak.

Pasalnya, selama ini beliau sudah berhasil melestarikan sendiri ± 100 ha lahan tersebut tanpa bantuan dana sepeser-pun dari pemerintah. Pemerintah hanya menyediakan lahan saja, itupun dengan perjuangan sekitar dua tahun untuk mendapatkan ijin dari tiga departemen pemerintah.

Namun dia sadar bahwa tempat itu penting dibuka untuk umum agar masyarakat dapat mengetahui keindahan, manfaat, dan dapat tergerak untuk menjadi peduli terhadap keberlangsungan hutan mangrove di Jakarta.

Hal yang masih disayangkan adalah biaya yang begitu mahal untuk sekedar melakukan penanaman mangrove, biaya yang dikenakan adalah Rp. 150.000 per orang, sudah mencakup 2 bibit mangrove, guide, kaos, fasilitas pemandian, area outbond, pendopo, dan makan siang.

Agaknya hal tersebut menjadi sebuah hal yang bisa dimaklumi, pasalnya perawatan yang dilakukan adalah mencakup area hingga kurang lebih 100 ha dengan pekerja mencapai puluhan orang.

Setelah berakhir obrolan kami dengan pihak pengelola, kami berdua pun masih sempat mencicipi menaiki menara pengamatan yang tingginya kurang lebih 100 meter.

Di atas menara pengamatan, kami dapat melihat seluruh area TWA Angke Kapuk, terlihat jelas keindahan pesisir Jakarta jika dihiasi oleh hutan mangrove. Kamipun pada akhirnya meninggalkan lokasi, sekitar pukul 13:30 WIB. (ADM).